Penulis Pemula dan Proses Kreatifnya

penulis pemula proses kreatif bincang semilir.co

Beberapa hari yang lalu, aku—penulis pemula—mendapat pesan dari nomor tidak dikenal. Pesannya berisi bahwa aku, diminta tolong untuk menjadi pembicara dalam live instagram yang diselenggarakan oleh media semilir.co, pada senin tanggal 1 februari. Tema yang diangkat adalah “Proses kreatif menulis.”

Otak seketika menghambur keluar. Kepala pusing, bibir pecah-pecah, ingin hati untuk ngereog di tempat. Pasalnya, kegiatan menulis yang biasa kulakukan semata-mata untuk kesenangan belaka. Mungkin karena aku-nya yang suka bercerita, jadi daripada nggedabrus lalu hilang menguap begitu saja, ya mending aku tulis saja di laptop. Karena keterusan menulis di laptop, aku iseng mencoba mengunggahnya di blog sendiri. Dulu namanya alegorisenja.com, tapi dikarenakan ada beberapa penyesuaian, aku mengubahnya menjadi marimengurai.com yang juga bisa kalian temukan di instagram dengan nama yang sama: marimengurai.

Topik utama yang sering kutulis adalah sesuatu yang dekat dengan diriku. Seputar cinta, keluarga, dan beberapa kali menulis esai yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan orang-orang biasa. Aku lebih sering menulis semacam jurnal pribadi sebenarnya, bagiku itu mengingatkan sekaligus menyenangkan. Tidak berlama-lama lagi, bagaimana isi bincang soalan “proses kreatif menulis” itu?

Sungguh menyebalkan menonton akrobat orang awam yang ndakik-ndakik berbicara soal kepenulisan. Dan aku tahu akan hal itu. Ku-awali bincang santai dengan kalimat yang jika dirangkum berbunyi: Aku menulis dan aku sebagaimana teman-teman semua adalah orang biasa. Hal tersebut menjadikan perbincangan kali ini lebih santai semilir selayaknya nama medianya. Bincang ringan dengan pembicaranya adalah aku: penulis pemula. Akan Tetapi aku yakin tak ada yang salah untuk itu. Semua tertata dan sudah pada tempatnya. Selalu ada yang bisa kita petik dari berbagai hal.

Misalnya, untuk teman-teman yang menginjakkan kaki pada usia dewasa muda, barangkali kesederhanaan pola pikir bisa dipetik dari kepolosan anak usia lima. Atau dari orang yang lebih tua, kita bisa memetik hikmah dari sederet peristiwa yang ia lakoni semasa dulu masih dewasa muda. Tiap penulis memiliki pribadi yang unik dan karena itu perjalanan seorang penulis tak ada duanya. Termasuk penulis pemula tentu saja.

Proses Kreatif Menulis

Yang perlu kusampaikan pertama-tama adalah mari kita cocokkan pendapat mengenai definisi “proses kreatif”: Proses kreatif merupakan proses yang dilalui oleh seseorang dalam menghasilkan sebuah karya, dalam hal ini karya tersebut berupa tulisan. Jika disederhanakan lagi, proses kreatif adalah rangkaian kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru.

Nah, sesuatu yang baru atau buah pikiran apa yang ditulis? Bisa dibagi menjadi 2 jenis. fiksi atau non-fiksi. Proses kreatif dalam menulis ini pun bisa dikatakan seputar pengumpulan ide, pengembangan ide, dan penyempurnaan ide. Wellek dan Warren dalam siswanto 2008 mengungkapkan bahwa proses kreatif ini meliputi seluruh tahapan, mulai dari dorongan bawah sadar yang melahirkan karya, sampai pada perbaikan terakhir yang dilakukan oleh si pengarang.

Bagiku, menulis adalah tentang proses mengemas. Dan dalam proses mengemas ini, setiap orang (ku-ulangi) setiap orang bakal punya perbedaan entah banyak ataupun sedikit. Itulah kenapa meskipun sama-sama bertema “Patah hati,” Wira Nagara dan Fiersa Besari bisa berbeda soalan isi dari tulisannya. Sederhananya, karena mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Sadar akan hal itu, sedikit demi sedikit aku berani menulis dan muncul ke permukaan dengan bentuk memublikasikan tulisan—meski sebenarnya lebih banyak yang nganggur berserakan di laptop.

Setiap penulis memiliki proses kreatifnya masing-masing. Bagaimana munculnya ide, dikemas menjadi fiksi atau non-fiksi, melakukan riset (wawancara, menyebar kuesioner, mencari jurnal yang memiliki tema serupa; atau lebih teliti dalam mengamati tiap detail kehidupan), kemudian mengelompokkan ide ke dalam kerangka tulisan, mulai menulis (tentang menulis dengan bebas dan cepat), melakukan penyuntingan awal (sebelum ke tahap pengendapan), tahap pengendapan selama 1-2 hari, kemudian membaca ulang dan melakukan sentuhan akhir: editing.

Datangnya Ide

Dari mana datangnya ideku adalah amat berkaitan dengan kisah hidup pribadi. Aku cenderung menulis sesuatu yang dekat sekaligus aku sadari. Keluarga dan cinta—kamu bisa menemui tulisanku di marimengurai.com ini. Sedikit mundur satu tahun ke belakang, kala itu aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan penulis novel Kambing dan Hujan: Cak Mahfud Ikhwan. Waktu terlibat percakapan, beliau bilang bahwa “Sebaiknya menulis itu dimulai dengan sesuatu yang dekat-dekat saja dengan dirimu. Jangan kok kamu hidup di desa dan gak pernah ke eropa, eh nulis tentang novel berlatarkan eropa, iya tahu kalau bisa membaca referensi dari jurnal atau buku atau menonton film dengan latar belakang yang sama, tapi akan lebih valid dan mengena jika memulainya dari yang ada di dekatmu. Penggambaran keseluruhannya bisa mantap.” Aku yang sebelumnya memang gemar bercerita tentang sesuatu yang dekat dengan diriku, yaitu keluarga atau cinta pun merasa sudah di jalan yang lurus untuk sementara. Kelak aku membaca esai dari Mas AS Laksana seputar creative writing dan menemukan bahwa hal-hal yang kulakukan ini adalah bagian dari riset yang dilakukan oleh seorang penulis fiksi. Yaitu mengamati dan lebih mendetail dalam menuliskan pengamatan tadi.

Ide Kedua

Setelah mendapatkan ide atau tema dan jenis tulisan: apakah fiksi atau non-fiksi, aku kemudian mencari ide kedua, yaitu yang membuat khalayak atau pembaca berkontemplasi: melakukan perenungan. Ini kalau jenis tulisannya adalah esai. Seringnya aku mencari-kaitkan ide yang pertama (yaitu dari sesuatu yang dekat) dengan ide kedua yang menurutku bermanfaat untuk pembaca: ini cenderung non-fiksi dan mengacu pada literatur non-fiksi pula. Agar punya gambaran, kuberikan contoh. Waktu itu kamar mandi di rumahku sedang direnovasi. Ini masuk ke ide yang pertama. Kemudian aku mencari apa yang menarik dari kamar mandi: aku mendapati bahwa ada riset yang mengulas bahwa kebanyakan “ide” itu muncul ketika sedang berada di kamar mandi; dan aku mendapati banyak orang besar yang menemukan sesuatu di kamar mandi. Seperti Archimedes, Ed Sheeran, atau Steve Jobs. Ide utama kutulis detail kecilnya tentang renovasi rumah, ide kedua menyangga betapa ternyata penting pembahasan soal ide utama. Ini ketika aku menulis semacam esai pribadi.

Setelah mendapat setidaknya ide utama dan ide kedua, aku mendalami dan mencari literatur untuk ide yang kedua karena sifatnya adalah nonfiksi, tidak seperti ide pertama yang mengandalkan pengamatan dan detail-detail saja. Aku mulai dengan membaca artikel ringan di google hingga jurnal yang tinggi kredibilitasnya.

BACA JUGA: Cerita Sebelum Tidur: Madura Telang dan Roman Picisan

Eksekusi: Menulis

Sesudah itu, aku membikin kerangka tulisan, yang berisi urutan atau pencampuran antara ide pertama dan kedua agar lebih terstruktur dan menarik. Langsung berlanjut ke proses eksekusi. Menulis dengan lancar dan bebas seakan-akan tak memedulikan ada tombol backspace di laptopku. Tentu dengan tetap mengacu kerangka struktur tadi. Setelah aku yakin kalimat terakhir sudah rampung kutulis. Baru kemudian berlanjut menuju editing awal. Seperti: apakah ada salah tik, kalimat yang membingungkan, atau pilihan kata yang kurang mengena.

Pengendapan/Pengabaian 🙁

Selesai menetaskan pikiran dalam tulisan sekaligus melakukan editing awal, aku meninggalkan tulisan untuk waktu 1-2 hari. Proses ini amat jarang kulakukan, seringnya ya hanya 3-4 jam saja. Jika sudah begitu, kelak aku menyesal kenapa terlalu buru-buru dalam proses pengendapan ini.

Editing

Setelah masa pengendapan selesai, aku mulai menyunting tulisan kembali. Seringnya di sana banyak sekali kujumpai kekeliruan. Bahasa yang standar dan kata yang berulang, yang membikin pembaca tidak nyaman. Setelah proses editing rampung, maka naskah pun siap dianggurin di laptop. Hehe, maksudku siap dikirim atau di-publish di mana saja.

Penyesalan

Penyesalan yang sering ku-alami biasanya karena melewatkan proses pengendapan atau penyuntingan akhir. Contohnya ketika sudah dimuat oleh media, aku kadang merasa malu sendiri. Akan Tetapi bukankah memang kesalahan sudah pasti ada? Dan penulis pemula/kacangan seperti aku harus terus belajar dan berbenah. Karena penulis dengan segala buah pikirannya ibarat seorang siswa dalam sekolah: Yang terus terbuka dengan perubahan dan pengetahuan yang ia dapatkan. Untuk menjadi lebih baik dan barangkali lebih beda dari diri yang sebelumnya.

Kututup tulisan ini dengan kalimat yang barangkali membikin penulis pemula—termasuk aku—merasakan angin segar yang jarang ditemukan di artikel google lainnya. Kukutip dari esai AS Laksana, seorang mentor kepenulisan yang masyhur. Bahwa berlatih menulis tidak serta-merta terus-terusan menulis, tapi mempelajari tekniknya. Mungkin membuat metafora, atau menulis deskripsi yang bagus nan berisi. Penguatan di teknik-teknik itu bisa memberikan dampak yang signifikan dalam kepenulisan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *