Usaha Mengalahkan Quarter Life Crisis

usaha mengalahkan quarter life crisis

Bagi kamu para fresh graduate, atau para pembikin resolusi guna memulai awal tahun 2024, atau siapa pun kamu yang sedang bingung; cemas; khawatir; hilang arah terkait masa depanmu sendiri, entah dalam hal karir maupun pendidikan, ceritaku ini berpotensi untuk memecah kebuntuanmu. Ini semacam esai refleksiku, seorang fresh graduate yang bimbang dan masih gamang hendak melangkah ke arah mana, lalu menemukan cara yang efektif untuk menguraikan sederet isi pikirannya dan juga keberanian untuk menantang hari esok.

***

Mau bekerja, tapi di bidang apa dan sebagai apa?

Mau S2, tapi apa aku cukup layak dan mampu? Ke luar negeri atau dalam negeri? Bagaimana nasib orang tua kalau aku meninggalkan mereka untuk menempuh pendidikan ke luar negeri?

Mau mengembangkan diri? Pengembangan yang seperti apa dan berdasarkan apa? Les bahasa ke Pare? Belajar desain atau editing video secara autodidak lewat YouTube?

Atau kalau mau mengembangkan diri, apa seharusnya aku mengembangkan yang sesuai dengan minat? Atau mending yang sesuai dengan dunia (alias keahlian yang dibutuhkan di dunia kerja)?

Aku juga dibuntuti dengan pertanyaan semacam, “Sebenarnya, minat dan tujuan hidupku ini apa?” yang terus bermunculan timbul-tenggelam sewaktu-waktu.

Usia dua puluhan memang masa di mana quarter life crisis sedang subur-suburnya. Sebuah fase ketika seorang individu merasa gelisah dengan masa depannya.

Kecemasan itu bertubi-tubi menyapaku. Rasanya, berbagai permasalahan seakan-akan mengepung dan mengharuskanku untuk mengatasinya. Apakah bisa? Kupikir bakal sangat sukar untuk menyelesaikan seluruh permasalahan itu, mengingat manusia memiliki keterbatasan energi dan waktu. Maka alih-alih merampungkan seluruhnya, aku membuat semacam bagan atau pengelompokan untuk menentukan tujuan hidup ke depannya: memilih dan memilah, menata yang mungkin dan membuang yang tidak mungkin. Itu kulakukan menggunakan bantuan peta pikiran (mind mapping)

Mind Mapping

Aku kemudian duduk, mengambil secarik kertas dan menggenggam satu pena. Aku mulai menggambar mind map tentang diriku sendiri. Bentuk mind map-nya simpel, dan seperti yang bisa kamu jumpai di google. Sekurangnya, beginilah bentukan mind map-ku:

Ah iya, tak ada aturan baku dalam membuat mind map. Kamu bisa sebebas-bebasnya menuangkan gagasanmu. Entah tentang pendidikan atau juga karir atau terkait pengembangan dirimu dari sudut pandang yang unik. Seperti hal-nya aku ketika membuat mind map kali ini.

Fokus yang ku-incar ialah kegiatan apa pun yang bersumber dari “kreatif”. Maka, posisi center ku-isi dengan “kreatif” sebab aku amat yakin memang ingin terjun di pekerjaan atau pembelajaran atau bidang yang terfokus pada kreativitas. Di sisi lain, aku memang kurang suka dengan kegiatan monoton berulang-ulang. Dunia kreatif, setelah ku-renungkan, memang sangat cocok untuk ku-arungi.

Kotak-kotak yang mengitari “kreatif” itu ku-isi dengan berbagai project/kegiatan yang mengendap dalam benakku dan bersinggungan dengan nilai kreatif. Ada blogger, fotografer, podcaster, penulis media berhonor, wartawan dusun, ide bisnis, dan ide-ide lain. Fokus atau tujuan dari berbagai rencana itu pun berbeda-beda, di antaranya ada: finansial, personal branding, pengabdian masyarakat, dan pengembangan diri.

Bermacam-macam tujuan itu nantinya ku-kelompokkan sesuai dengan goals yang ingin kucapai. Aku tentu tak bisa memilih seluruhnya, melainkan hanya satu atau dua dari pilihan itu saja.

Sebagaimana aku, kamu juga wajib berdiskusi dengan dirimu sendiri ketika hendak menentukan prioritas. Apakah finansial, personal branding, kesukarelaan ketika mengabdi pada masyarakat, kepuasan untuk mengembangan diri, dan lain sejenisnya. Pada tahap ini, kamu harus benar-benar bisa menjawab, tujuan mana yang kamu prioritaskan (dan di dalamnya juga termasuk dengan hal yang kamu sukai).

SWOT

Berbagai pilihan rencana itu kemudian ku-analisis kekuatan; kelemahan; peluang; dan ancamannya berdasarkan subjektivitas (atau prioritas)ku. Atau kamu mungkin lebih mengenal analisis itu dengan strength, weakness, opportunity, dan threats (SWOT). Tidak cuma dipakai untuk kebutuhan analisis bisnis, SWOT juga bisa kamu manfaatkan untuk diri sendiri, sebagaimana yang kulakukan.

Aku ambil contoh untuk menganalisis rencana menjadi “penulis media berhonor”.

Kalau aku fokus di situ, tulisanku sudah pasti menghasilkan uang jika dimuat oleh media tersebut, dan finansial boleh jadi aman. Aku juga punya pengalaman yang menjadikan diriku lebih pede untuk mengirimkan tulisan ke media. Ini bisa jadi poin yang menyorot kekuatan (strength)

Tetapi kelemahannya (weakness) ialah, menulis untuk media bukan pekerjaan yang mudah. Merangkai gagasan yang bersandar pada data dan tulisan yang harus enak dibaca menjadi hal yang agak sukar. Belum lagi jika tulisan yang susah payah aku kerjakan itu tidak dimuat oleh media tersebut. Aku merasa seolah membuang waktu saja.

Peluang (opportunity) mungkin selalu ada. Salah satunya ialah beberapa tulisanku memang sudah pernah dimuat oleh media. Persebaran berita yang menarik di dunia maya juga bisa kujadikan bensin bagi tulisan yang hendak kutulis. Kesukaanku terhadap buku dan film juga bisa aku manfaatkan.

Ancamannya (threats) bisa kukatakan berasal dari penulis lain. Penulis yang jauh lebih kompeten, dan mengirimkan tulisannya ke media yang sama denganku.

Setelah SWOT

Setelah analisis SWOT rampung, aku kembali merenung. Renungan itu seputar tujuan akhir jika aku telaten menyelami salah satu “rencana” yang kutulis di mind map tadi. Aku mempertanyakan ulang, apakah aku bisa konsisten di situ. Bagaimana dengan faktor dalam dan luar diriku. Adakah rencana yang lebih baik dari rencana yang aku gagas, dan sejenisnya.

Tak hanya satu rencana, aku juga melakukan analisis SWOT ke seluruh rencana. Bagi rencana yang mengandung weakness dan threats banyak, kuhempaskan begitu saja. Hingga aku menemukan dua sampai tiga rencana yang matang, yang boleh kupercayai sebagai rencana (atau pekerjaan atau fokus) yang gueh banget!

Jujur, aku tipikal orang yang sangat berhati-hati dan kurang “sat-set” dalam melangkah. Aku lebih memilih untuk menimbang dan menyusun suatu rencana dengan sedikit lebih cermat (dan sedikit lebih cermat lagi, dan sedikit lebih cermat lagi, sampai tidak memulai-mulai). Mungkin mematangkan “blueprint” memang bagus, meski dalam kondisi tertentu, terkadang tindakan sat-set lah yang jauh lebih bagus. Ya, tentu tidak sama, namanya juga manusia.

Sampai sini, aku kemudian menemukan poin-poin spesialis yang harus aku telateni demi meraih tujuan hidupku. Memang belum tercapai, sih, tapi setiap bangun tidur, aku menemukan energi untuk menunaikan rencana-rencana yang menurutku telah matang. Ibaratnya, setiap pagi, dengan badan tegap dan kepala mendongak, aku seakan menantang “maju loe dunia!”

Ya, aku menemukan arah dan mulai yakin untuk melangkah.

Kesimpulan

Teruntuk seorang fresh graduate, perencana resolusi tahun 2024, maupun para pengidap quarter life crisis, adalah hal yang wajar kalau kamu cemas; bimbang; dan hilang arah. Itu tandanya bahwa kamu menyayangi dirimu sendiri dengan cara memikirkannya secara sungguh-sungguh. Akan tetapi kalau kecemasan itu cuma dipelihara di dalam pikiran saja, ya bukannya nemu jalan keluar, yang ada malah jalan buntu.

Berusahalah untuk tenang, ambil secarik kertas dan genggamlah sebuah pena, lakukan diskusi dengan dirimu sendiri, refleksi, juga evaluasi hal-hal yang telah kamu lakukan. Fokuslah pada tujuan yang kamu prioritaskan dan bidang yang menyedot minatmu.

Curahkan seluruhnya ke dalam mind map, analisis setiap detail rencana itu menggunakan SWOT (versimu sendiri dan jangan terlalu berpatokan dengan google), adopsi rencana yang matang dan hempaskan rencana yang kurang matang, dan yang terakhir: fokus melangkah pada jalur yang sudah kamu tata demi menggapai sesuatu yang kamu prioritaskan.

Di sini, aku sedang melaksanakan bagian yang terakhir itu. Bagian yang membutuhkan begitu banyak energi dan ketelatenan. Apakah aku berhasil? Keberhasilan menurutku adalah tentang kesenangan ketika “sedang dalam perjalanan” menuju tujuan. Aku memang belum sampai ke tujuan, tapi aku amat menikmati perjalanan ini, hari demi hari dan pagi demi pagi. Sharing di atas ialah lebih dari sekadar menggapai tujuan, tapi tentang kenikmatan yang bakal kamu dapatkan ketika sedang dalam perjalanan menuju tujuanmu.

Kuharap sharing ini mampu menanggulangi kecemasanmu. Sampai jumpa di lain kesempatan! Oh, iya, kapan lalu aku dibikin kagum dengan ChatGPT 3.5. Menurutku, teknologi AI itu wajib kamu manfaatkan. Dia bisa jadi teman brainstorming yang sangat baik! Lain waktu kuceritakan! Kamu tertarik?

1 Komentar


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *